This is default featured slide 1 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 2 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 3 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 4 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
This is default featured slide 5 title
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.
Rabu, 25 Juni 2014
Sabtu, 10 Mei 2014
Bahasa Indonesia (Semantik)
00.34
No comments
"Semantik"
Makna hubungan korelasi antara bunyi dengan barang :
1)
Leksikal : Makna berdasarkan kamus (diambil dari kamus)
Contoh : Ibu menanam bunga di
kebun
2)
Gramatikal : Makna berdasarkan
kondeks/ungkapan kalimat
Contoh : Ia adalah bunga desa
3)
Konotatif
a) Lama :
Makna bahasa sastra {penandaannya tidak transparan/tidak logis, mengandung
unsur perasaan, 1 lambang banyak tafsiran (ambiguitas makna)}.
Contoh :
Bunga teratai di tengah hutan tengah kolam tengah malam.
b) Baru :
Makna denotatif + nilai rasa.
§
NB.
Macam –macam :
(1)
Konotatif
positif, contoh : wafat.
(2)
Konotatif
negatif, contoh : tewas.
(3)
Konotatif
netral, contoh : meninggal dunia.
(a)
Kias,
contoh : panjang tangan.
(b)
Bukan
kias, contoh : pencuri, mafia.
4)
Denotatif
(makna sebenarnya)
a) Lama : makna
bahasa sehari-hari.
b) Baru : makna
sebenarnya
§
NB
: diambil dari waktu penggunaan (kapan digunakan)
Ciri-ciri
denotatif : Transparan, satu lambang satu arti, tidak mengandung unsur
perasaan.
Perubahan makna :
1)
Meluas : Makna sekarang
lebih luas dari makna lama.
Contoh : Saudara, bapak,
berlayar.
Berlayar →Dulu : menggunakan kapal layar.
→Sekarang : menggunakan kapal
layar, kapal pesiar, dll.
2)
Menyempit : Makna sekarang lebih
sempit dari makna dulu.
Contoh : Sarjana,
pendeta.
Madrasah →Dulu :
semua sekolah
→ Sekarang :sekolah Islam.
3)
Peyoratif :Penurunan makna.
Contoh : Kawin, bini,
bunting.
4)
Amelioratif : Peninggian makna.
Contoh : Wanita,
pramunikmat, kamu, istri.
5)
Sinestesia : Penggunaan 2 indera
yang berbeda.
Contoh : Wajahnya manis
sekali. (indera penglihatan, indera perasa)
6)
Asosiasi : Akibat persamaan
sifat/makna yang berdasarkan kesamaan sifat.
Contoh : Catut
istri dibawa ke meja hijau. (orang yang terlibat suatu kasus)
Amplop = uang suap
7)
Nilai
rasa : Hal yang
baik menurun/hal yang jelek meningkat,
tergantung
situasi dan kondisi.
Contoh : Bangsat, tolol,
bodoh.
Sambungan Makna
A.
Sinonim
ialah dua kata atau lebih yang memiliki arti sama atau hampir sama karena,
sebagai berikut :
1.
Kelaziman
Pemakaian/Kebiasaan/Kotokasi
è Contoh:
ü
Jalan
raya
ü
Maha
Agung
2.
Distribusi
Pemakaian: digunakan pada awal kalimat-sudah, telah, kepada.
è Contoh:
ü
Apakah
anda sudah makan?
3.
Nilai
Emoltif (rasa): nilai kata berdasarkan perasaan seseorang dan tergantung pada
situasi (gramatikal)
è Contoh:
ü
Tolol
ü
Goblok
ü
Kurang
pandai
4.
Makna
Dasar dan Makna Tambahan (MBMT)
è Contoh:
ü
Mengitip:
melihat + lubang kecil( tidak sambung )
§
melihat
dngan mata sesuai dengan fungsinya
ü
Melirik : melihat + bola mata menyudut
B.
Homonim
adalah dua kata yang tulisan dan lafalnya sama tetapi artinya beda.
è Contoh :
ü
Genting:
bermakna gawat
ü
Genting:
bermakna atap
1.
Homograf
adalah dua kata yang tulisannya sama tetapi lafal dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü
Apel
(Buah) dan Apel (Upacara)
2.
Homofon
adalah dua kata yang lafalnya sama tetapi tulisan dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü
Bang
(kakak laki-laki) dan Bank (tempat menyimpan uang)
C.
Antonim
adalah dua kata atau lebih yang mempunyai arti beda (lawan kata/makna kata).
1.
Kembar:
tidak bisa diberi tingkatan
è Contoh:
ü
Putra-putri
ü
Dewa-dewi
ü
dsb.
2.
Bertingkat:
bisa diberi tingkatan.
è Contoh:
ü
Kaya
miskin, dsb.
3.
Hubungan
timbal balik atau majemuk: perlawanan arah dengan tingkat makna.
è Contoh:
ü
Murid
guru, atas bawah, kanan kiri, dst.
4.
Polisemi
adalah suatu kata yang memiliki makna ganda dan diantara makna satu dengan yang
lain masih ada hubungan leksikal dan gramatikal.
è Contoh:
ü
Jatuh
:
§
Makna
perasaan:
Jodi jatuh hati pada Kinam
§
Makna
kesehatan:
Anggun jatuh sakit
D.
Hiponim
adalah kata yang mencakup sedikit kata.
Hipernim adalah kata yang mencakup banyak kata.
è Contoh:
ü
Burung
hiponim dari hewan
ü
Hewan
hipernim dari burung
Bahasa Indonesia (Wacana)
00.28
No comments
"Wacana"
Wacana adalah
kumpulan bunyi dari awal higga akhir sehingga membentuk suatu wacana/ bacaan.
Macam-macam
wawancara:
1.
Deskripsi
·
Pengertian:
Wacana / karangan yang mengajak pembaca untuk dapat melihat, mendengar,
merasakan apa yang didengar, dilihat, dirasakan oleh pengarang.
·
Fungsi:
Menghidupkan karangan
·
Syarat:
Harus hidup dengan cara diberi rincian sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya
yang mendukung ide pengarang.
NB: Deskripsi tidak selalu tampil murni karena berfungsi untuk menghidupkan
karangan, bukti boleh ada boleh tidak kalau ada maka berfungsi memperjelas ide
karangan.
2.
Eksposisis
(ilmiah / non fiksi)
·
Pengertian:
Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca dari tidak tahu menjadi tahu (
bukan cerita)
·
Fungsi:
Untuk memaparkan, memberikan penjelasan.
Disertai bukti sangat perlu yang berfungsi memperjelas
ide pengarang.
3.
Argumentasi
( ilmiah / non fiksi)
·
Pengertian:
Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca untuk dapat meyakini apa yang
disampaikan, sehingga pembaca mampu mengambil suatu doplin/ keputusan.
·
Fungsi:Uuntuk
meyakinkan pembaca
·
Satu
unsur logika dibutuhkan ada unsure kejiwaan.
·
Bukti:
Harus ada bukti yang berfungsi untuk
mengambil suatu kesimpulan lalu baru didapatkan doplin.
4.
Persuasi
(logika) selain ada bukti ada unsur perasaan/unsure kejiwaan
·
Pengertian:
Wacana yang mengajak pembaca untuk terbawa dan terbujuk oleh ide pengarang (
karangan yang berusaha untuk membujuk / merayu pembaca ). Ada unsur kejiwaan.
·
Fungsi:
Untuk membujuk/merayu pembaca.
·
Bukti:
Boleh ada jika diperluka, boleh tidak jika tidak diperlukan.
5.
Narasi
·
Pengertian:
Kumpulan peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya
impulsif/daya imajinasi pengarang.
·
Macam:
1. Narasi Fiksi/ Narasi Berplot/ Narasi Artistik
2. Narasi Non
fiksi/ Narasi Informasi/ Narasi Faktual/
Narasi Aktual
Ø
NB:
1.
Fiksi:
Mengandung unsur imajinasi.
2.
Berplot:
Mempunyai alur/ jalan bercerita.
3.
Informasi:
Memberi informasi ( rangkaian peristiwa berdasarkan pronologi waktu) merupakan
cerita.
4.
Non
fiksi: Tidak mengandung unsur imajinasi.
5.
Artistik:
Memberi kesan indah/mengandung keindahan.
6.
Faktual: Terkini ( berasal dari fakta yang actual)
7.
Implusif:
Daya rangsang atau merangsang imajinasi pengarang.
Bahasa Indonesia (Retorika)
00.24
No comments
"Retorika"
Pengertian:
Retorika adalah
ilmu yang mempelajari kemampuan berbicara seseorang baik secar tulis maupun
lisan. (tulis: paragraph & wacana, lisan: pidato)
1. Pengertian: bagian karangan yang terdiri dari beberapa
kalimat yang berhubungan membentuk satu pokok pikiran.
2.
Teknik
penulisan: menjorok ke dalam sebanyak 5 – 7 spasi dari margin kiri.
3.
Fungsi:
mempermudah isi suatu wacana.
4.
Unsur:
1) pokok pikiran: ide yang
terkandung dalam paragraph.
2) kalimat penjelas: kalimat yang digunakan sebagai
penjelas bagi kalimat utama.
3) kalimat utama: kalimat yang berisi pokok pikiran.
5. syarat: 1) minimal 3 kalimat.
2) kompak membentuk
1 pokok pikiran, terpadu, dan menyatu.
3) mempunyai 1 pokok
pikiran.
6. macam
(dilihat dari letak kalimat utama):1) deduktif / deduksi: kalimat utama berada
di awal paragraf.
2) induktif / induksi: kalimat utama berada di akhir
paragraf.
3) campuran: kalimat utama berada di awal & akhir
paragraf. (hanya ada 1 pokok pikiran)
4) naratif / deskriptif / tersirat: tanpa kalimat utama
(tersebar), bisa digunakan untuk fiksi.
7. pola pengembangan paragraph: 1) dengan rincian khusus
a.
umum ke khusus (deduktif)
b.
khusus ke umum (induktif)
2)
alasan dengan rincian sebab – sebab
a.
sebab akibat
i.
Sebab
akibat (deduktif)
a. sebab akibat
berentet secara terus menerus
b. sebab akibat
iasa
ii.
akibat sebab: akibat sebagai pikiran utama, sebab sebagai penjelas.
3)
perbandingan
i.
menyatu, rincian hal 1 & 2 dijadikan 1 kalimat.
ii.
terpisah, rincian hal 1 & 2 dibuat terpisah, dibuat 1 kalimat.
4)
dengan contoh – contoh: bahasa indoesia mengalami perkembangan dengan
mengadopsi bahasa asing.
5)
campuran: sebab akibat campur dan contoh – contoh.
Bahasa Indonesia
"Sintaksis"
A.
Kalimat
1.
Pengertian: Bunyi
ujar (bunyi yang keluar dari alat ucap manuasia) yang didahului kesenyapan
(suasana tenang) dan intansi menunjukka bahwa kalimat ujaran sudah lengkap.
2.
Unsur
a.
Sifat
1)
Sekmental : Unsur – unsure yang dapat dilihat
Contoh: Tanda baca, bentuk kata, pilihan
kata, urutan kata
2)
Suprasekmental: Unsur – unsur yang tidak dapat dilihat
Contoh: Intansi, arti
b.
Wujud
1)
Subjek: Yang melakukan pekerjaan (aktif) dan yang dikenai
pekerjaan (pasif)
2)
Predikat: Melakukan suatu pekerjaan
3)
Keterangan: Ket. Waktu, tempat, bilangan. Dll
4)
Objek
a)
Penderita: Objek pada kalimat aktif transitif
b)
Penyerta / Berkepentingan: Ibu membeli kue
c)
Berkata depan: Harus pakai, kata depan,
Contoh: Kita harus hormat kepada orang tua
d)
Pelaku / pelengkap: Yang melakukan pekerjaan kalimat
pasif. (Pelaku, kalimat, aktif Intrasintif)
3.
Upaya / Logika Kalimat
a.
Urutan / susunan
kata
b.
Pilihan kata
c.
Bentuk kata
Contoh:
- Ibu memukul kucing
- Ibu terbang tinggi
4.
Macam
a.
Susunan
1)
Tertib: Subyek mendahului Predikat (S.P)
Contoh: Ibu berlari dan ibu pergi ke pasar
2)
Inversi
a)
Antara: Predikat
dan subjek tidak seramgkai
b)
Jika: Dipindah –
pindah empat objek dan predikat serangkai atau
tidak boleh dipisah
c)
Kalau: Sudah
dibentuk inversi tidak boleh merubah makna
Contoh: Hari ini ibu pergi ke pasar
Ø
Invers P-S (Sesuai balik / variasi kaku)
Contoh: Berlari ia, berjalan ia
b.
Jenis Predikat
1)
Verbal: Kalimat yang predikatnya kata kerja
Contoh: Adik makan sayur
2)
Nominal: Kalimat yang predikatnya selain kata kerja
Contoh: Adik cantik, rumah besar
3)
Deponen: Kalimat yang subyeknya aktif, predikatnya pasif
Contoh:
Mobil itu tertabrak pohon asam.
c. Isi/ intonasi
1)
Tanya:
Diakhiri tanda tanya, kalimat tanya yang tak bertanya berarti tidak butuh
jawaban.
2)
Berita:
a)
Langsung.
b)
Tak
langsung.
3) Perintah.
d. Bentuk predikat
hubungan S – P
1)
Kalimat
aktif: kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan.
a)
Transitif:
kalimat yang objeknya penderita.
Contoh: Kakak
mencuci pakaian.
Ciri-ciri: 1. Berimbuhan me- kecuali me-
pengecualian.
2. Berobjek penderita, contoh:
menyanyi.
3. Dapat dijadikan pasif; ketentuan:
S→O , O→S, P berubah bentuk.
b)
Intransitif:
kalimat yang tak diikuti objek penderita.
Contoh: Ayah
dating.
Ciri-ciri: 1. Berimbuhan ber-, me-,
perkecualian.
2. Tak berobjek penderita, contoh:
menangis.
3. Predikatnya kata kerja aus (kata
kerja yang mampu berdiri sendiri).
4. Tidak dapat dijadikan pasif.
2)
Kalimat
pasif: kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
a)
Tindakan,
di bagi menjadi per- dan di-
Contoh: Pintu
itu ditutup.
Ciri-ciri: 1. Berimbuhan di- pesona( kata ganti)
dipakai bila pelaku kegiatan
adalah pesona dua atau jamak.
2. Peristiwa sedang berlangsung.
3. Menyatakan unsur kesengajaan.
4. Menyatakan tindakan.
b) Keadaan.
Contoh: Pintu itu tertutup.
Ciri-ciri: 1.
Berimbuhan ke-an, der, ke.
2. Menyatakan peristiwa yang
telah berlangsung.
3. Mengandung unsur
ketidaksengajaan.
4. Menyatakan keadaan.
e. Pola kalimat
1)
S
: P/P (subjek saja atau predikat saja).
2)
a)
S – P b) P – S
3)
S
– P – O
4)
S
– P – O – K / S – P – O – O – K
5)
K
– S – P – O – K
6)
S1
– S2 - PS –
P / S – P1 – P2
7)
SKS
– P1 / S – PKP – K
![]() |
|||
Arif anak pak Tono bekerja di pabrik.
Ibu berjualan pakaian bekas di pasar.
S
P KP
P
f.
Jabatan
1)
Tunggal
a)
Sempurna
/ lengkap
(1)
Lengkap
( S + P lebih (kk))
Contoh : Ayah pergi ke Malang
S P
K. tempat
(2)
Tak
lengkap (hanya terdiri S+P)
Contoh : Saya makan
S P
Kata yang SPOK nya hanya Satu
Contoh : Ibu memasak ikan di
dapur
S P O
K. tempat
b)
Tak
sempurna ( kal. Elips) – hanya untuk S/P/O/K saja
Contoh : pergi, tinggal, becik, keluar
2)
Majemuk
a)
Setara
(1)
Penggabungan
biasa
(a)
Kalimat
majemuk yang pola 1 dan yang lainnya serangkai / sama
(b)
Menggunakan
dan, bagi pula, lalu, kemudian
Contoh: Ia pergi ke rumahku dan ke pasar
(2)
Pemilihan
(atau)
(3)
Pertentangan
(tetapi, melainkan)
(4)
Perbatasa
( sebab, akibat)
(menurut hasil kongres terbaru no.4 di coret)
b)
Bertingkat
: kalimat tunggal yang salah satu unsur diduduki/ di ganti kalimat lain/ salah
satu unsur mengalami perluasan.
c)
Campuran
: kalimat yang terdiri dari 2 pola yang kedudukannya setara
Contoh : Ibu
pergi ke pasar dan ayah pergi ke tempat yang baru dibangun ibu
B.
Klausa
1.
Pengertian
: bagian kalimat yang terdiri dari ( STP ) yang dipotensi menjadi kalimat dan
kadang-kadang subyeknya dapat di hilangkan / bagian kalimat yang dapat berdiri
sendiri sebagai kalimat lengkap yang ditandai dengan titik dan koma.
Contoh : Ayah
makan, minum, merokok
2.
Macam
a.
Klausa
atas : klausa yang tidak bisa diganti dengan klausa lain
Contoh : orang
yang berbaju merah itu mengendarai mobil
b.
Klausa
bawah
Contoh : Ia
menjadi dokter
S P O
C.
Frase
1.
Pengertian
Kumpulan kata yang mengandung pikiran lengkap (kata) dan
kelompok kata. Serta bagian kalimat yang tidak melebihi batas fungsi (S-P-O)
|
|
|
2.
Macam
a.
Endosentrik
Frase yang dalam distribusinya atau unsur – unsurnya saling menggantikan
satu atau keduanya.
1)
Atributif
/ bertingkat (subordinatif)
Salah satu unsur bisa menggantikan unsur yang lain.
Contoh : telah merakit & merakit telah
2)
Koordinatif
/ setara
Kedua unsur bisa saling menggantikan kedudukan (bisa disisipi ”dan” /
”atau”)
Contoh : Tini Tono & Tono Tini (kalu disisipi akan mengubah arti)
3)
Apositif
Keduanya bisa menggantikan unsur penjelas tapi lain, konotasinya/artinya
berbeda, dengan kalimat semula.
Contoh : Eli anak Pak Adi tidak masuk sekolah karena sakit. Eli disini
adalah anak Pak Adi.
b.
Eksosentrik
Frase yang tidak bisa menggantikan kedudukan dalam proses sebagai fungsi.
1)
Konjungsi
: kata hubung yang berdiri sendiri.
2)
Preposisi : kata depan.
Contoh : di perpustakaan & perpustakaan di
c.
Idiomatik
/ pembagian berdasarkan jam kita
Frase ungkapan yang termasuk makna gramatikal/makna kias.
Contoh : orang tua itu berjalan berseok-seok.
Catatan : buku baru
= frase endosentrik atributif
nominal kata kerja.
Telah merakit = frase
endosentrik atributif verbal/kata kerja.
Ia agak sakit = frase
endosentrik atributif sifat.
Langganan:
Postingan (Atom)











