This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 25 Juni 2014

Pemrograman C++ (Array)

Program C++  (Pencarian Data Pada ARRAY)


 Download Program pada link dibawah ini:

Download here

Sabtu, 10 Mei 2014

Bahasa Indonesia (Semantik)

"Semantik"


Makna hubungan korelasi antara bunyi dengan barang :
1)      Leksikal                 : Makna berdasarkan  kamus (diambil dari kamus)
Contoh                 : Ibu menanam bunga di kebun
2)      Gramatikal                        : Makna berdasarkan kondeks/ungkapan kalimat
Contoh                 : Ia adalah bunga desa
3)      Konotatif 
a)      Lama               : Makna bahasa sastra {penandaannya tidak transparan/tidak logis, mengandung unsur perasaan, 1 lambang banyak tafsiran (ambiguitas makna)}.
Contoh                        : Bunga teratai di tengah hutan tengah kolam tengah malam.
b)      Baru                : Makna denotatif + nilai rasa.
§  NB. Macam –macam :
(1)   Konotatif positif, contoh : wafat.
(2)   Konotatif negatif, contoh : tewas.
(3)   Konotatif netral, contoh : meninggal dunia.
(a)    Kias, contoh : panjang tangan.
(b)   Bukan kias, contoh : pencuri, mafia.
4)      Denotatif (makna sebenarnya)
a)      Lama   : makna bahasa sehari-hari.
b)      Baru    : makna sebenarnya
§  NB : diambil dari waktu penggunaan (kapan digunakan)
Ciri-ciri denotatif : Transparan, satu lambang satu arti, tidak mengandung unsur perasaan.

Perubahan makna :
1)      Meluas                               : Makna sekarang lebih luas dari makna lama.
Contoh                              : Saudara, bapak, berlayar.
Berlayar →Dulu                : menggunakan kapal layar.
→Sekarang        : menggunakan kapal layar, kapal pesiar, dll.
2)      Menyempit                        : Makna sekarang lebih sempit dari makna dulu.
Contoh                              : Sarjana, pendeta.
Madrasah  →Dulu                        : semua sekolah
→ Sekarang    :sekolah Islam.
3)      Peyoratif                           :Penurunan makna.
Contoh                              : Kawin, bini, bunting.
4)      Amelioratif                        : Peninggian makna.
Contoh                              : Wanita, pramunikmat, kamu, istri.
5)      Sinestesia                          : Penggunaan 2 indera yang berbeda.
Contoh                              : Wajahnya manis sekali. (indera penglihatan, indera perasa)
6)      Asosiasi                             : Akibat persamaan sifat/makna yang berdasarkan kesamaan sifat.
Contoh                              : Catut istri dibawa ke meja hijau. (orang yang terlibat suatu kasus)
                                           Amplop = uang suap
7)        Nilai rasa                          : Hal yang baik menurun/hal yang jelek meningkat,  tergantung                  situasi dan kondisi.
Contoh                             : Bangsat, tolol, bodoh.
Sambungan Makna
A.    Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki arti sama atau hampir sama karena, sebagai berikut :
1.      Kelaziman Pemakaian/Kebiasaan/Kotokasi
è Contoh:
ü  Jalan raya
ü  Maha Agung
2.      Distribusi Pemakaian: digunakan pada awal kalimat-sudah, telah, kepada.
è Contoh:
ü  Apakah anda sudah makan?
3.      Nilai Emoltif (rasa): nilai kata berdasarkan perasaan seseorang dan tergantung pada situasi (gramatikal)
è Contoh:
ü  Tolol
ü  Goblok
ü  Kurang pandai
4.      Makna Dasar dan Makna Tambahan (MBMT)
è Contoh:
ü  Mengitip: melihat + lubang kecil( tidak sambung )
§  melihat dngan mata sesuai dengan fungsinya
ü  Melirik    : melihat + bola mata menyudut
B.     Homonim adalah dua kata yang tulisan dan lafalnya sama tetapi artinya beda.
è Contoh :
ü  Genting: bermakna gawat
ü  Genting: bermakna atap
1.      Homograf adalah dua kata yang tulisannya sama tetapi lafal dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü  Apel (Buah) dan Apel (Upacara)
2.      Homofon adalah dua kata yang lafalnya sama tetapi tulisan dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü  Bang (kakak laki-laki) dan Bank (tempat menyimpan uang)
C.     Antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai arti beda (lawan kata/makna kata).
1.      Kembar: tidak bisa diberi tingkatan
è Contoh:
ü  Putra-putri
ü  Dewa-dewi
ü  dsb.
2.      Bertingkat: bisa diberi tingkatan.
è Contoh:
ü  Kaya miskin, dsb.
3.      Hubungan timbal balik atau majemuk: perlawanan arah dengan tingkat makna.
è Contoh:
ü  Murid guru, atas bawah, kanan kiri, dst.
4.      Polisemi adalah suatu kata yang memiliki makna ganda dan diantara makna satu dengan yang lain masih ada hubungan leksikal dan gramatikal.
è Contoh:
ü  Jatuh :
§  Makna perasaan:
Jodi jatuh hati pada Kinam
§  Makna kesehatan:
Anggun jatuh sakit
D.    Hiponim adalah kata yang mencakup sedikit kata.
Hipernim adalah kata yang mencakup banyak kata.
è Contoh:
ü  Burung hiponim dari hewan
ü  Hewan hipernim dari burung

Bahasa Indonesia (Wacana)

"Wacana"


Wacana adalah kumpulan bunyi dari awal higga akhir sehingga membentuk suatu wacana/ bacaan.
Macam-macam wawancara:
1.      Deskripsi
·         Pengertian: Wacana / karangan yang mengajak pembaca untuk dapat melihat, mendengar, merasakan apa yang didengar, dilihat, dirasakan oleh pengarang.
·         Fungsi: Menghidupkan karangan
·         Syarat: Harus hidup dengan cara diberi rincian sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya yang mendukung ide pengarang.
NB: Deskripsi tidak selalu tampil murni karena berfungsi untuk menghidupkan karangan, bukti boleh ada boleh tidak kalau ada maka berfungsi memperjelas ide karangan.
2.      Eksposisis (ilmiah / non fiksi)
·         Pengertian: Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca dari tidak tahu menjadi tahu ( bukan cerita)
·         Fungsi: Untuk memaparkan, memberikan penjelasan.
Disertai bukti sangat perlu yang berfungsi memperjelas ide pengarang. 
3.      Argumentasi ( ilmiah / non fiksi)
·         Pengertian: Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca untuk dapat meyakini apa yang disampaikan, sehingga pembaca mampu mengambil suatu doplin/ keputusan.
·         Fungsi:Uuntuk meyakinkan pembaca
·         Satu unsur logika dibutuhkan ada unsure kejiwaan.
·         Bukti: Harus ada bukti yang berfungsi untuk  mengambil suatu kesimpulan lalu baru didapatkan doplin.
4.      Persuasi (logika) selain ada bukti ada unsur perasaan/unsure kejiwaan
·         Pengertian: Wacana yang mengajak pembaca untuk terbawa dan terbujuk oleh ide pengarang ( karangan yang berusaha untuk membujuk / merayu pembaca ). Ada unsur  kejiwaan.
·         Fungsi: Untuk membujuk/merayu pembaca.
·         Bukti: Boleh ada jika diperluka, boleh tidak jika tidak diperlukan.
5.      Narasi
·         Pengertian: Kumpulan peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya impulsif/daya imajinasi pengarang.
·         Macam: 1. Narasi Fiksi/ Narasi Berplot/ Narasi Artistik
  2. Narasi Non fiksi/ Narasi Informasi/ Narasi Faktual/  Narasi Aktual
Ø  NB:
1.      Fiksi: Mengandung unsur imajinasi.
2.      Berplot: Mempunyai alur/ jalan bercerita.
3.      Informasi: Memberi informasi ( rangkaian peristiwa berdasarkan pronologi waktu) merupakan cerita.
4.      Non fiksi: Tidak mengandung unsur imajinasi.
5.      Artistik: Memberi kesan indah/mengandung keindahan.
6.      Faktual:  Terkini ( berasal dari fakta yang actual)
7.      Implusif: Daya rangsang atau merangsang imajinasi pengarang.

Bahasa Indonesia (Retorika)

"Retorika"


Pengertian:
Retorika adalah ilmu yang mempelajari kemampuan berbicara seseorang baik secar tulis maupun lisan. (tulis: paragraph & wacana, lisan: pidato)
1.      Pengertian: bagian karangan yang terdiri dari beberapa kalimat yang berhubungan membentuk satu pokok pikiran.
2.      Teknik penulisan: menjorok ke dalam sebanyak 5 – 7 spasi dari margin kiri.
3.      Fungsi: mempermudah isi suatu wacana.
4.      Unsur:             1) pokok pikiran: ide yang terkandung dalam paragraph.
2) kalimat penjelas: kalimat yang digunakan sebagai penjelas bagi kalimat utama.
3) kalimat utama: kalimat yang berisi pokok pikiran.
5.   syarat: 1) minimal 3 kalimat.
                  2) kompak membentuk 1 pokok pikiran, terpadu, dan menyatu.
                  3) mempunyai 1 pokok pikiran.
6.    macam (dilihat dari letak kalimat utama):1) deduktif / deduksi: kalimat utama berada di awal paragraf.
2) induktif / induksi: kalimat utama berada di akhir paragraf.
3) campuran: kalimat utama berada di awal & akhir paragraf. (hanya ada 1 pokok pikiran)
4) naratif / deskriptif / tersirat: tanpa kalimat utama (tersebar), bisa digunakan untuk fiksi.
7.    pola pengembangan paragraph:          1) dengan rincian khusus
                                                                  a. umum ke khusus (deduktif)
                                                                  b. khusus ke umum (induktif)
                                                                  2) alasan dengan rincian sebab – sebab
                                                                  a. sebab akibat
                                                                                                                                                        i.            Sebab akibat (deduktif)
a. sebab akibat berentet secara terus menerus
b. sebab akibat iasa
ii. akibat sebab: akibat sebagai pikiran utama, sebab sebagai penjelas.
3) perbandingan
i. menyatu, rincian hal 1 & 2 dijadikan 1 kalimat.
ii. terpisah, rincian hal 1 & 2 dibuat terpisah, dibuat 1 kalimat.
4) dengan contoh – contoh: bahasa indoesia mengalami perkembangan dengan mengadopsi bahasa asing.
5) campuran: sebab akibat campur dan contoh – contoh.

Bahasa Indonesia

"Sintaksis"


A.    Kalimat
1.       Pengertian: Bunyi ujar (bunyi yang keluar dari alat ucap manuasia) yang didahului kesenyapan (suasana tenang) dan intansi menunjukka bahwa kalimat ujaran sudah lengkap.
2.      Unsur
a.       Sifat
1)      Sekmental : Unsur – unsure yang dapat dilihat
Contoh: Tanda baca, bentuk kata, pilihan kata, urutan kata
2)      Suprasekmental: Unsur – unsur yang tidak dapat dilihat
Contoh: Intansi, arti
b.      Wujud
1)      Subjek: Yang melakukan pekerjaan (aktif) dan yang dikenai pekerjaan (pasif)
2)      Predikat: Melakukan suatu pekerjaan
3)      Keterangan: Ket. Waktu, tempat, bilangan. Dll
4)      Objek
a)      Penderita: Objek pada kalimat aktif transitif
b)      Penyerta / Berkepentingan: Ibu membeli kue
c)      Berkata depan: Harus pakai, kata depan,
Contoh: Kita harus hormat kepada orang tua
d)     Pelaku / pelengkap: Yang melakukan pekerjaan kalimat pasif. (Pelaku, kalimat, aktif Intrasintif)
3.      Upaya / Logika Kalimat
a.       Urutan  / susunan kata
b.      Pilihan kata
c.       Bentuk kata
Contoh:
- Ibu memukul kucing
- Ibu terbang tinggi
                  Upaya perbaikan kalimat supaya menjadi logis
4.      Macam
a.       Susunan
1)      Tertib: Subyek mendahului Predikat (S.P)
Contoh: Ibu berlari dan ibu pergi ke pasar
2)       Inversi
a)       Antara: Predikat dan subjek tidak seramgkai
b)       Jika: Dipindah – pindah empat objek dan predikat serangkai atau  tidak boleh dipisah
c)       Kalau: Sudah dibentuk inversi tidak boleh merubah makna
Contoh: Hari ini ibu pergi ke pasar
Ø   Invers         P-S (Sesuai balik / variasi kaku)
Contoh: Berlari ia, berjalan ia
b.      Jenis Predikat
1)      Verbal: Kalimat yang predikatnya kata kerja
Contoh: Adik makan sayur
2)      Nominal: Kalimat yang predikatnya selain kata kerja
Contoh: Adik cantik, rumah besar
3)      Deponen: Kalimat yang subyeknya aktif, predikatnya pasif
Contoh:  Mobil itu tertabrak pohon asam.

  c. Isi/ intonasi
1)         Tanya: Diakhiri tanda tanya, kalimat tanya yang tak bertanya berarti tidak butuh jawaban.
2)         Berita:
a)      Langsung.
b)      Tak langsung.
3)    Perintah.
            d. Bentuk predikat hubungan S – P
1)      Kalimat aktif: kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan.
a)      Transitif: kalimat yang objeknya penderita.
Contoh: Kakak mencuci pakaian.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan me- kecuali me- pengecualian.
            2. Berobjek penderita, contoh: menyanyi.
            3. Dapat dijadikan pasif; ketentuan: S→O , O→S, P berubah bentuk.
b)      Intransitif: kalimat yang tak diikuti objek penderita.
Contoh: Ayah dating.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan ber-, me-, perkecualian.
            2. Tak berobjek penderita, contoh: menangis.
            3. Predikatnya kata kerja aus (kata kerja yang mampu berdiri sendiri).
            4. Tidak dapat dijadikan pasif.
2)      Kalimat pasif: kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
a)      Tindakan, di bagi menjadi per- dan di-
Contoh: Pintu itu ditutup.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan di- pesona( kata ganti) dipakai bila pelaku kegiatan
                 adalah pesona dua atau jamak.
            2. Peristiwa sedang berlangsung.
            3. Menyatakan unsur kesengajaan.
            4. Menyatakan tindakan.
b)   Keadaan.
      Contoh: Pintu itu tertutup.
      Ciri-ciri:           1. Berimbuhan ke-an, der, ke.
                  2. Menyatakan peristiwa yang telah berlangsung.
                  3. Mengandung unsur ketidaksengajaan.
                  4. Menyatakan keadaan.
  e. Pola kalimat
1)      S : P/P (subjek saja atau predikat saja).
2)      a) S – P  b) P – S
3)      S – P – O
4)      S – P – O – K / S – P – O – O – K
5)      K – S – P – O – K
6)      S1 – S2 -  PS – P / S – P1 – P2


7)      SKS – P1 / S – PKP – K
 


Arif anak pak Tono bekerja di pabrik. Ibu berjualan pakaian bekas di pasar.
                                                               S       P                     KP             P
                                                                                                     
f.        Jabatan
1)      Tunggal
a)      Sempurna / lengkap
(1)   Lengkap ( S + P lebih (kk))
Contoh : Ayah pergi ke Malang
                        S     P        K. tempat
(2)   Tak lengkap (hanya terdiri S+P)
Contoh : Saya makan
                  S     P
Kata yang SPOK nya hanya Satu
Contoh : Ibu memasak ikan di dapur
                S        P          O     K. tempat
b)      Tak sempurna ( kal. Elips) – hanya untuk S/P/O/K saja
Contoh : pergi, tinggal, becik, keluar

2)      Majemuk
a)      Setara
(1)   Penggabungan biasa
(a)    Kalimat majemuk yang pola 1 dan yang lainnya serangkai / sama
(b)   Menggunakan dan, bagi pula, lalu, kemudian
Contoh: Ia pergi ke rumahku dan ke pasar
(2)   Pemilihan (atau)
(3)   Pertentangan (tetapi, melainkan)
(4)   Perbatasa ( sebab, akibat)
(menurut hasil kongres terbaru no.4 di coret)
b)      Bertingkat : kalimat tunggal yang salah satu unsur diduduki/ di ganti kalimat lain/ salah satu unsur mengalami perluasan.
Contoh : Ahmad menjadi dokter        Anak asuh pak Akbar menjadi dokter
c)      Campuran : kalimat yang terdiri dari 2 pola yang kedudukannya setara
Contoh : Ibu pergi ke pasar dan ayah pergi ke tempat yang baru dibangun ibu

B.       Klausa
1.      Pengertian : bagian kalimat yang terdiri dari ( STP ) yang dipotensi menjadi kalimat dan kadang-kadang subyeknya dapat di hilangkan / bagian kalimat yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap yang ditandai dengan titik dan koma.
Contoh : Ayah makan, minum, merokok
2.       Macam
a.       Klausa atas : klausa yang tidak bisa diganti dengan klausa lain
Contoh : orang yang berbaju merah itu mengendarai mobil


b.      Klausa bawah
Contoh : Ia menjadi dokter
               S      P           O

C.     Frase
1.      Pengertian
Kumpulan kata yang mengandung pikiran lengkap (kata) dan kelompok kata. Serta bagian kalimat yang tidak melebihi batas fungsi (S-P-O)
O
 
P
 
S
 
Contoh : Kevin telah merakit Nusa

2.      Macam
a.       Endosentrik
Frase yang dalam distribusinya atau unsur – unsurnya saling menggantikan
satu atau keduanya.
1)      Atributif / bertingkat (subordinatif)
Salah satu unsur bisa menggantikan unsur yang lain.
Contoh : telah merakit & merakit telah
2)      Koordinatif / setara
Kedua unsur bisa saling menggantikan kedudukan (bisa disisipi ”dan” / ”atau”)
Contoh : Tini Tono & Tono Tini (kalu disisipi akan mengubah arti)
3)      Apositif
Keduanya bisa menggantikan unsur penjelas tapi lain, konotasinya/artinya berbeda, dengan kalimat semula.
Contoh : Eli anak Pak Adi tidak masuk sekolah karena sakit. Eli disini adalah anak Pak Adi.
b.      Eksosentrik
Frase yang tidak bisa menggantikan kedudukan dalam proses sebagai fungsi.
1)      Konjungsi : kata hubung yang berdiri sendiri.
2)      Preposisi   : kata depan.
Contoh : di perpustakaan & perpustakaan di
c.       Idiomatik / pembagian berdasarkan jam kita
Frase ungkapan yang termasuk makna gramatikal/makna kias.
Contoh : orang tua itu berjalan berseok-seok.
Catatan :  buku baru               = frase endosentrik atributif nominal kata kerja.
                Telah merakit          = frase endosentrik atributif verbal/kata kerja.
                Ia agak sakit            = frase endosentrik atributif sifat.