"Semantik"
Makna hubungan korelasi antara bunyi dengan barang :
1)
Leksikal : Makna berdasarkan kamus (diambil dari kamus)
Contoh : Ibu menanam bunga di
kebun
2)
Gramatikal : Makna berdasarkan
kondeks/ungkapan kalimat
Contoh : Ia adalah bunga desa
3)
Konotatif
a) Lama :
Makna bahasa sastra {penandaannya tidak transparan/tidak logis, mengandung
unsur perasaan, 1 lambang banyak tafsiran (ambiguitas makna)}.
Contoh :
Bunga teratai di tengah hutan tengah kolam tengah malam.
b) Baru :
Makna denotatif + nilai rasa.
§
NB.
Macam –macam :
(1)
Konotatif
positif, contoh : wafat.
(2)
Konotatif
negatif, contoh : tewas.
(3)
Konotatif
netral, contoh : meninggal dunia.
(a)
Kias,
contoh : panjang tangan.
(b)
Bukan
kias, contoh : pencuri, mafia.
4)
Denotatif
(makna sebenarnya)
a) Lama : makna
bahasa sehari-hari.
b) Baru : makna
sebenarnya
§
NB
: diambil dari waktu penggunaan (kapan digunakan)
Ciri-ciri
denotatif : Transparan, satu lambang satu arti, tidak mengandung unsur
perasaan.
Perubahan makna :
1)
Meluas : Makna sekarang
lebih luas dari makna lama.
Contoh : Saudara, bapak,
berlayar.
Berlayar →Dulu : menggunakan kapal layar.
→Sekarang : menggunakan kapal
layar, kapal pesiar, dll.
2)
Menyempit : Makna sekarang lebih
sempit dari makna dulu.
Contoh : Sarjana,
pendeta.
Madrasah →Dulu :
semua sekolah
→ Sekarang :sekolah Islam.
3)
Peyoratif :Penurunan makna.
Contoh : Kawin, bini,
bunting.
4)
Amelioratif : Peninggian makna.
Contoh : Wanita,
pramunikmat, kamu, istri.
5)
Sinestesia : Penggunaan 2 indera
yang berbeda.
Contoh : Wajahnya manis
sekali. (indera penglihatan, indera perasa)
6)
Asosiasi : Akibat persamaan
sifat/makna yang berdasarkan kesamaan sifat.
Contoh : Catut
istri dibawa ke meja hijau. (orang yang terlibat suatu kasus)
Amplop = uang suap
7)
Nilai
rasa : Hal yang
baik menurun/hal yang jelek meningkat,
tergantung
situasi dan kondisi.
Contoh : Bangsat, tolol,
bodoh.
Sambungan Makna
A.
Sinonim
ialah dua kata atau lebih yang memiliki arti sama atau hampir sama karena,
sebagai berikut :
1.
Kelaziman
Pemakaian/Kebiasaan/Kotokasi
è Contoh:
ü
Jalan
raya
ü
Maha
Agung
2.
Distribusi
Pemakaian: digunakan pada awal kalimat-sudah, telah, kepada.
è Contoh:
ü
Apakah
anda sudah makan?
3.
Nilai
Emoltif (rasa): nilai kata berdasarkan perasaan seseorang dan tergantung pada
situasi (gramatikal)
è Contoh:
ü
Tolol
ü
Goblok
ü
Kurang
pandai
4.
Makna
Dasar dan Makna Tambahan (MBMT)
è Contoh:
ü
Mengitip:
melihat + lubang kecil( tidak sambung )
§
melihat
dngan mata sesuai dengan fungsinya
ü
Melirik : melihat + bola mata menyudut
B.
Homonim
adalah dua kata yang tulisan dan lafalnya sama tetapi artinya beda.
è Contoh :
ü
Genting:
bermakna gawat
ü
Genting:
bermakna atap
1.
Homograf
adalah dua kata yang tulisannya sama tetapi lafal dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü
Apel
(Buah) dan Apel (Upacara)
2.
Homofon
adalah dua kata yang lafalnya sama tetapi tulisan dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü
Bang
(kakak laki-laki) dan Bank (tempat menyimpan uang)
C.
Antonim
adalah dua kata atau lebih yang mempunyai arti beda (lawan kata/makna kata).
1.
Kembar:
tidak bisa diberi tingkatan
è Contoh:
ü
Putra-putri
ü
Dewa-dewi
ü
dsb.
2.
Bertingkat:
bisa diberi tingkatan.
è Contoh:
ü
Kaya
miskin, dsb.
3.
Hubungan
timbal balik atau majemuk: perlawanan arah dengan tingkat makna.
è Contoh:
ü
Murid
guru, atas bawah, kanan kiri, dst.
4.
Polisemi
adalah suatu kata yang memiliki makna ganda dan diantara makna satu dengan yang
lain masih ada hubungan leksikal dan gramatikal.
è Contoh:
ü
Jatuh
:
§
Makna
perasaan:
Jodi jatuh hati pada Kinam
§
Makna
kesehatan:
Anggun jatuh sakit
D.
Hiponim
adalah kata yang mencakup sedikit kata.
Hipernim adalah kata yang mencakup banyak kata.
è Contoh:
ü
Burung
hiponim dari hewan
ü
Hewan
hipernim dari burung






0 komentar:
Posting Komentar