This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Sabtu, 10 Mei 2014

Bahasa Indonesia (Semantik)

"Semantik"


Makna hubungan korelasi antara bunyi dengan barang :
1)      Leksikal                 : Makna berdasarkan  kamus (diambil dari kamus)
Contoh                 : Ibu menanam bunga di kebun
2)      Gramatikal                        : Makna berdasarkan kondeks/ungkapan kalimat
Contoh                 : Ia adalah bunga desa
3)      Konotatif 
a)      Lama               : Makna bahasa sastra {penandaannya tidak transparan/tidak logis, mengandung unsur perasaan, 1 lambang banyak tafsiran (ambiguitas makna)}.
Contoh                        : Bunga teratai di tengah hutan tengah kolam tengah malam.
b)      Baru                : Makna denotatif + nilai rasa.
§  NB. Macam –macam :
(1)   Konotatif positif, contoh : wafat.
(2)   Konotatif negatif, contoh : tewas.
(3)   Konotatif netral, contoh : meninggal dunia.
(a)    Kias, contoh : panjang tangan.
(b)   Bukan kias, contoh : pencuri, mafia.
4)      Denotatif (makna sebenarnya)
a)      Lama   : makna bahasa sehari-hari.
b)      Baru    : makna sebenarnya
§  NB : diambil dari waktu penggunaan (kapan digunakan)
Ciri-ciri denotatif : Transparan, satu lambang satu arti, tidak mengandung unsur perasaan.

Perubahan makna :
1)      Meluas                               : Makna sekarang lebih luas dari makna lama.
Contoh                              : Saudara, bapak, berlayar.
Berlayar →Dulu                : menggunakan kapal layar.
→Sekarang        : menggunakan kapal layar, kapal pesiar, dll.
2)      Menyempit                        : Makna sekarang lebih sempit dari makna dulu.
Contoh                              : Sarjana, pendeta.
Madrasah  →Dulu                        : semua sekolah
→ Sekarang    :sekolah Islam.
3)      Peyoratif                           :Penurunan makna.
Contoh                              : Kawin, bini, bunting.
4)      Amelioratif                        : Peninggian makna.
Contoh                              : Wanita, pramunikmat, kamu, istri.
5)      Sinestesia                          : Penggunaan 2 indera yang berbeda.
Contoh                              : Wajahnya manis sekali. (indera penglihatan, indera perasa)
6)      Asosiasi                             : Akibat persamaan sifat/makna yang berdasarkan kesamaan sifat.
Contoh                              : Catut istri dibawa ke meja hijau. (orang yang terlibat suatu kasus)
                                           Amplop = uang suap
7)        Nilai rasa                          : Hal yang baik menurun/hal yang jelek meningkat,  tergantung                  situasi dan kondisi.
Contoh                             : Bangsat, tolol, bodoh.
Sambungan Makna
A.    Sinonim ialah dua kata atau lebih yang memiliki arti sama atau hampir sama karena, sebagai berikut :
1.      Kelaziman Pemakaian/Kebiasaan/Kotokasi
è Contoh:
ü  Jalan raya
ü  Maha Agung
2.      Distribusi Pemakaian: digunakan pada awal kalimat-sudah, telah, kepada.
è Contoh:
ü  Apakah anda sudah makan?
3.      Nilai Emoltif (rasa): nilai kata berdasarkan perasaan seseorang dan tergantung pada situasi (gramatikal)
è Contoh:
ü  Tolol
ü  Goblok
ü  Kurang pandai
4.      Makna Dasar dan Makna Tambahan (MBMT)
è Contoh:
ü  Mengitip: melihat + lubang kecil( tidak sambung )
§  melihat dngan mata sesuai dengan fungsinya
ü  Melirik    : melihat + bola mata menyudut
B.     Homonim adalah dua kata yang tulisan dan lafalnya sama tetapi artinya beda.
è Contoh :
ü  Genting: bermakna gawat
ü  Genting: bermakna atap
1.      Homograf adalah dua kata yang tulisannya sama tetapi lafal dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü  Apel (Buah) dan Apel (Upacara)
2.      Homofon adalah dua kata yang lafalnya sama tetapi tulisan dan artinya berbeda.
è Contoh:
ü  Bang (kakak laki-laki) dan Bank (tempat menyimpan uang)
C.     Antonim adalah dua kata atau lebih yang mempunyai arti beda (lawan kata/makna kata).
1.      Kembar: tidak bisa diberi tingkatan
è Contoh:
ü  Putra-putri
ü  Dewa-dewi
ü  dsb.
2.      Bertingkat: bisa diberi tingkatan.
è Contoh:
ü  Kaya miskin, dsb.
3.      Hubungan timbal balik atau majemuk: perlawanan arah dengan tingkat makna.
è Contoh:
ü  Murid guru, atas bawah, kanan kiri, dst.
4.      Polisemi adalah suatu kata yang memiliki makna ganda dan diantara makna satu dengan yang lain masih ada hubungan leksikal dan gramatikal.
è Contoh:
ü  Jatuh :
§  Makna perasaan:
Jodi jatuh hati pada Kinam
§  Makna kesehatan:
Anggun jatuh sakit
D.    Hiponim adalah kata yang mencakup sedikit kata.
Hipernim adalah kata yang mencakup banyak kata.
è Contoh:
ü  Burung hiponim dari hewan
ü  Hewan hipernim dari burung

Bahasa Indonesia (Wacana)

"Wacana"


Wacana adalah kumpulan bunyi dari awal higga akhir sehingga membentuk suatu wacana/ bacaan.
Macam-macam wawancara:
1.      Deskripsi
·         Pengertian: Wacana / karangan yang mengajak pembaca untuk dapat melihat, mendengar, merasakan apa yang didengar, dilihat, dirasakan oleh pengarang.
·         Fungsi: Menghidupkan karangan
·         Syarat: Harus hidup dengan cara diberi rincian sekecil-kecilnya dan sedetail-detailnya yang mendukung ide pengarang.
NB: Deskripsi tidak selalu tampil murni karena berfungsi untuk menghidupkan karangan, bukti boleh ada boleh tidak kalau ada maka berfungsi memperjelas ide karangan.
2.      Eksposisis (ilmiah / non fiksi)
·         Pengertian: Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca dari tidak tahu menjadi tahu ( bukan cerita)
·         Fungsi: Untuk memaparkan, memberikan penjelasan.
Disertai bukti sangat perlu yang berfungsi memperjelas ide pengarang. 
3.      Argumentasi ( ilmiah / non fiksi)
·         Pengertian: Wacana yang memberikan informasi kepada pembaca untuk dapat meyakini apa yang disampaikan, sehingga pembaca mampu mengambil suatu doplin/ keputusan.
·         Fungsi:Uuntuk meyakinkan pembaca
·         Satu unsur logika dibutuhkan ada unsure kejiwaan.
·         Bukti: Harus ada bukti yang berfungsi untuk  mengambil suatu kesimpulan lalu baru didapatkan doplin.
4.      Persuasi (logika) selain ada bukti ada unsur perasaan/unsure kejiwaan
·         Pengertian: Wacana yang mengajak pembaca untuk terbawa dan terbujuk oleh ide pengarang ( karangan yang berusaha untuk membujuk / merayu pembaca ). Ada unsur  kejiwaan.
·         Fungsi: Untuk membujuk/merayu pembaca.
·         Bukti: Boleh ada jika diperluka, boleh tidak jika tidak diperlukan.
5.      Narasi
·         Pengertian: Kumpulan peristiwa yang disusun sedemikian rupa sehingga menimbulkan daya impulsif/daya imajinasi pengarang.
·         Macam: 1. Narasi Fiksi/ Narasi Berplot/ Narasi Artistik
  2. Narasi Non fiksi/ Narasi Informasi/ Narasi Faktual/  Narasi Aktual
Ø  NB:
1.      Fiksi: Mengandung unsur imajinasi.
2.      Berplot: Mempunyai alur/ jalan bercerita.
3.      Informasi: Memberi informasi ( rangkaian peristiwa berdasarkan pronologi waktu) merupakan cerita.
4.      Non fiksi: Tidak mengandung unsur imajinasi.
5.      Artistik: Memberi kesan indah/mengandung keindahan.
6.      Faktual:  Terkini ( berasal dari fakta yang actual)
7.      Implusif: Daya rangsang atau merangsang imajinasi pengarang.

Bahasa Indonesia (Retorika)

"Retorika"


Pengertian:
Retorika adalah ilmu yang mempelajari kemampuan berbicara seseorang baik secar tulis maupun lisan. (tulis: paragraph & wacana, lisan: pidato)
1.      Pengertian: bagian karangan yang terdiri dari beberapa kalimat yang berhubungan membentuk satu pokok pikiran.
2.      Teknik penulisan: menjorok ke dalam sebanyak 5 – 7 spasi dari margin kiri.
3.      Fungsi: mempermudah isi suatu wacana.
4.      Unsur:             1) pokok pikiran: ide yang terkandung dalam paragraph.
2) kalimat penjelas: kalimat yang digunakan sebagai penjelas bagi kalimat utama.
3) kalimat utama: kalimat yang berisi pokok pikiran.
5.   syarat: 1) minimal 3 kalimat.
                  2) kompak membentuk 1 pokok pikiran, terpadu, dan menyatu.
                  3) mempunyai 1 pokok pikiran.
6.    macam (dilihat dari letak kalimat utama):1) deduktif / deduksi: kalimat utama berada di awal paragraf.
2) induktif / induksi: kalimat utama berada di akhir paragraf.
3) campuran: kalimat utama berada di awal & akhir paragraf. (hanya ada 1 pokok pikiran)
4) naratif / deskriptif / tersirat: tanpa kalimat utama (tersebar), bisa digunakan untuk fiksi.
7.    pola pengembangan paragraph:          1) dengan rincian khusus
                                                                  a. umum ke khusus (deduktif)
                                                                  b. khusus ke umum (induktif)
                                                                  2) alasan dengan rincian sebab – sebab
                                                                  a. sebab akibat
                                                                                                                                                        i.            Sebab akibat (deduktif)
a. sebab akibat berentet secara terus menerus
b. sebab akibat iasa
ii. akibat sebab: akibat sebagai pikiran utama, sebab sebagai penjelas.
3) perbandingan
i. menyatu, rincian hal 1 & 2 dijadikan 1 kalimat.
ii. terpisah, rincian hal 1 & 2 dibuat terpisah, dibuat 1 kalimat.
4) dengan contoh – contoh: bahasa indoesia mengalami perkembangan dengan mengadopsi bahasa asing.
5) campuran: sebab akibat campur dan contoh – contoh.

Bahasa Indonesia

"Sintaksis"


A.    Kalimat
1.       Pengertian: Bunyi ujar (bunyi yang keluar dari alat ucap manuasia) yang didahului kesenyapan (suasana tenang) dan intansi menunjukka bahwa kalimat ujaran sudah lengkap.
2.      Unsur
a.       Sifat
1)      Sekmental : Unsur – unsure yang dapat dilihat
Contoh: Tanda baca, bentuk kata, pilihan kata, urutan kata
2)      Suprasekmental: Unsur – unsur yang tidak dapat dilihat
Contoh: Intansi, arti
b.      Wujud
1)      Subjek: Yang melakukan pekerjaan (aktif) dan yang dikenai pekerjaan (pasif)
2)      Predikat: Melakukan suatu pekerjaan
3)      Keterangan: Ket. Waktu, tempat, bilangan. Dll
4)      Objek
a)      Penderita: Objek pada kalimat aktif transitif
b)      Penyerta / Berkepentingan: Ibu membeli kue
c)      Berkata depan: Harus pakai, kata depan,
Contoh: Kita harus hormat kepada orang tua
d)     Pelaku / pelengkap: Yang melakukan pekerjaan kalimat pasif. (Pelaku, kalimat, aktif Intrasintif)
3.      Upaya / Logika Kalimat
a.       Urutan  / susunan kata
b.      Pilihan kata
c.       Bentuk kata
Contoh:
- Ibu memukul kucing
- Ibu terbang tinggi
                  Upaya perbaikan kalimat supaya menjadi logis
4.      Macam
a.       Susunan
1)      Tertib: Subyek mendahului Predikat (S.P)
Contoh: Ibu berlari dan ibu pergi ke pasar
2)       Inversi
a)       Antara: Predikat dan subjek tidak seramgkai
b)       Jika: Dipindah – pindah empat objek dan predikat serangkai atau  tidak boleh dipisah
c)       Kalau: Sudah dibentuk inversi tidak boleh merubah makna
Contoh: Hari ini ibu pergi ke pasar
Ø   Invers         P-S (Sesuai balik / variasi kaku)
Contoh: Berlari ia, berjalan ia
b.      Jenis Predikat
1)      Verbal: Kalimat yang predikatnya kata kerja
Contoh: Adik makan sayur
2)      Nominal: Kalimat yang predikatnya selain kata kerja
Contoh: Adik cantik, rumah besar
3)      Deponen: Kalimat yang subyeknya aktif, predikatnya pasif
Contoh:  Mobil itu tertabrak pohon asam.

  c. Isi/ intonasi
1)         Tanya: Diakhiri tanda tanya, kalimat tanya yang tak bertanya berarti tidak butuh jawaban.
2)         Berita:
a)      Langsung.
b)      Tak langsung.
3)    Perintah.
            d. Bentuk predikat hubungan S – P
1)      Kalimat aktif: kalimat yang subjeknya melakukan pekerjaan.
a)      Transitif: kalimat yang objeknya penderita.
Contoh: Kakak mencuci pakaian.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan me- kecuali me- pengecualian.
            2. Berobjek penderita, contoh: menyanyi.
            3. Dapat dijadikan pasif; ketentuan: S→O , O→S, P berubah bentuk.
b)      Intransitif: kalimat yang tak diikuti objek penderita.
Contoh: Ayah dating.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan ber-, me-, perkecualian.
            2. Tak berobjek penderita, contoh: menangis.
            3. Predikatnya kata kerja aus (kata kerja yang mampu berdiri sendiri).
            4. Tidak dapat dijadikan pasif.
2)      Kalimat pasif: kalimat yang subjeknya dikenai pekerjaan.
a)      Tindakan, di bagi menjadi per- dan di-
Contoh: Pintu itu ditutup.
Ciri-ciri:           1. Berimbuhan di- pesona( kata ganti) dipakai bila pelaku kegiatan
                 adalah pesona dua atau jamak.
            2. Peristiwa sedang berlangsung.
            3. Menyatakan unsur kesengajaan.
            4. Menyatakan tindakan.
b)   Keadaan.
      Contoh: Pintu itu tertutup.
      Ciri-ciri:           1. Berimbuhan ke-an, der, ke.
                  2. Menyatakan peristiwa yang telah berlangsung.
                  3. Mengandung unsur ketidaksengajaan.
                  4. Menyatakan keadaan.
  e. Pola kalimat
1)      S : P/P (subjek saja atau predikat saja).
2)      a) S – P  b) P – S
3)      S – P – O
4)      S – P – O – K / S – P – O – O – K
5)      K – S – P – O – K
6)      S1 – S2 -  PS – P / S – P1 – P2


7)      SKS – P1 / S – PKP – K
 


Arif anak pak Tono bekerja di pabrik. Ibu berjualan pakaian bekas di pasar.
                                                               S       P                     KP             P
                                                                                                     
f.        Jabatan
1)      Tunggal
a)      Sempurna / lengkap
(1)   Lengkap ( S + P lebih (kk))
Contoh : Ayah pergi ke Malang
                        S     P        K. tempat
(2)   Tak lengkap (hanya terdiri S+P)
Contoh : Saya makan
                  S     P
Kata yang SPOK nya hanya Satu
Contoh : Ibu memasak ikan di dapur
                S        P          O     K. tempat
b)      Tak sempurna ( kal. Elips) – hanya untuk S/P/O/K saja
Contoh : pergi, tinggal, becik, keluar

2)      Majemuk
a)      Setara
(1)   Penggabungan biasa
(a)    Kalimat majemuk yang pola 1 dan yang lainnya serangkai / sama
(b)   Menggunakan dan, bagi pula, lalu, kemudian
Contoh: Ia pergi ke rumahku dan ke pasar
(2)   Pemilihan (atau)
(3)   Pertentangan (tetapi, melainkan)
(4)   Perbatasa ( sebab, akibat)
(menurut hasil kongres terbaru no.4 di coret)
b)      Bertingkat : kalimat tunggal yang salah satu unsur diduduki/ di ganti kalimat lain/ salah satu unsur mengalami perluasan.
Contoh : Ahmad menjadi dokter        Anak asuh pak Akbar menjadi dokter
c)      Campuran : kalimat yang terdiri dari 2 pola yang kedudukannya setara
Contoh : Ibu pergi ke pasar dan ayah pergi ke tempat yang baru dibangun ibu

B.       Klausa
1.      Pengertian : bagian kalimat yang terdiri dari ( STP ) yang dipotensi menjadi kalimat dan kadang-kadang subyeknya dapat di hilangkan / bagian kalimat yang dapat berdiri sendiri sebagai kalimat lengkap yang ditandai dengan titik dan koma.
Contoh : Ayah makan, minum, merokok
2.       Macam
a.       Klausa atas : klausa yang tidak bisa diganti dengan klausa lain
Contoh : orang yang berbaju merah itu mengendarai mobil


b.      Klausa bawah
Contoh : Ia menjadi dokter
               S      P           O

C.     Frase
1.      Pengertian
Kumpulan kata yang mengandung pikiran lengkap (kata) dan kelompok kata. Serta bagian kalimat yang tidak melebihi batas fungsi (S-P-O)
O
 
P
 
S
 
Contoh : Kevin telah merakit Nusa

2.      Macam
a.       Endosentrik
Frase yang dalam distribusinya atau unsur – unsurnya saling menggantikan
satu atau keduanya.
1)      Atributif / bertingkat (subordinatif)
Salah satu unsur bisa menggantikan unsur yang lain.
Contoh : telah merakit & merakit telah
2)      Koordinatif / setara
Kedua unsur bisa saling menggantikan kedudukan (bisa disisipi ”dan” / ”atau”)
Contoh : Tini Tono & Tono Tini (kalu disisipi akan mengubah arti)
3)      Apositif
Keduanya bisa menggantikan unsur penjelas tapi lain, konotasinya/artinya berbeda, dengan kalimat semula.
Contoh : Eli anak Pak Adi tidak masuk sekolah karena sakit. Eli disini adalah anak Pak Adi.
b.      Eksosentrik
Frase yang tidak bisa menggantikan kedudukan dalam proses sebagai fungsi.
1)      Konjungsi : kata hubung yang berdiri sendiri.
2)      Preposisi   : kata depan.
Contoh : di perpustakaan & perpustakaan di
c.       Idiomatik / pembagian berdasarkan jam kita
Frase ungkapan yang termasuk makna gramatikal/makna kias.
Contoh : orang tua itu berjalan berseok-seok.
Catatan :  buku baru               = frase endosentrik atributif nominal kata kerja.
                Telah merakit          = frase endosentrik atributif verbal/kata kerja.
                Ia agak sakit            = frase endosentrik atributif sifat.